Murah dan Bersih
Komponen harga itu turut menjadikan PLTP Lahendong sebagai salah satu PLTP dengan Biaya Pokok Produksi (BPP) termurah di dunia, yaitu Rp 1.227 alias 8,6 sen dollar AS per kWh.
Baca Juga:
Peringati Hari Krida Pertanian 2026,Bupati Karo: Mari Kita Bangun Pertanian Secara Produktif dan Moderen
Harga itu masih lebih murah ketimbang tarif listrik rumah berdaya 900 VA, yaitu Rp 1.352 per kWh.
Uniknya, pembelian uap dari PT PGE (komponen C) sebagai sumber energi primer adalah penyusun terbesar BPP.
“Sisanya, yaitu nilai depresiasi aset (komponen A), biaya kepegawaian dan pemeliharaan (komponen B), serta pelumas dan bahan kimia (komponen D), jika ditotal hanya 2,4 sen dollar AS (Rp 374) per kWh,” ujar Wahib.
Baca Juga:
Kasus Penyekapan Perempuan 3 Tahun Jadi “Kejahatan Kemanusiaan”, KemenHAM Jabar Soroti Penanganan dan Pembiayaan Korban
Manajer Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan (UPDK) Minahasa PLN, Andreas Arthur Napitupulu, menyebut BPP PLTP Lahendong kini hanya bersaing dengan salah satu PLTP di Selandia Baru.
Hal ini membuktikan, upaya efisiensi dalam operasi dan perawatan telah berjalan dengan sangat baik.
“Kami juga terus berupaya mengoptimalkan tenaga kerja serta perawatan yang lebih prediktif. Dan, yang paling penting, adalah menjalankan tata kelola pembangkit dengan konsisten,” kata Andreas mengenai PLTP yang diperkuat 103 tenaga kerja itu.