KALTARA.WAHANANEWS.CO, Tanjung Selor - Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mulai merancang pengembangan ekonomi biru berbasis karbon melalui proyek percontohan rehabilitasi dan pengelolaan kawasan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Nunukan.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari kegiatan Cross Regional Blue Economy Initiative antara Kaltara dan Sabah, Malaysia, yang dilaksanakan di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung.
Baca Juga:
Membangun Remaja Gigih di Era Mudah : Belajar dari Oslo, Norwegia
Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal kolaborasi lintas wilayah, dalam mendorong pengembangan ekonomi biru sekaligus meningkatkan peran masyarakat pesisir.
Ia menyebutkan, program tersebut juga bertujuan untuk mengenalkan konsep ekonomi biru kepada masyarakat desa di Kabupaten Nunukan.
“Kami menjalin kerja sama dengan Sabah dalam penanaman mangrove, serta penguatan kapasitas masyarakat untuk mengelola kawasan pesisir,” ujar Zainal.
Baca Juga:
Pemerintah Salurkan 43 Ribu Ton Beras Murah, Jaga Harga di Masyarakat
Menurutnya, kawasan yang disiapkan sebagai lokasi proyek percontohan memiliki luas sekitar 3.000 hektare, meliputi ekosistem mangrove dan lahan gambut yang memiliki nilai serapan karbon tinggi.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi peluang ekonomi baru berbasis lingkungan bagi masyarakat setempat.
“Wilayah ini memiliki potensi besar sebagai penyerap karbon yang bisa dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru bagi desa,” katanya.
Lebih lanjut, Zainal mengungkapkan bahwa pengembangan karbon biru tersebut diarahkan untuk mendukung perdagangan karbon di masa depan. Namun, manfaat ekonominya diperkirakan baru dapat dirasakan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
“Diproyeksikan sekitar tahun 2035 program ini mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat desa akan menjadi kunci utama dalam pengelolaan kawasan tersebut. Ke depan, program serupa juga akan diperluas ke wilayah pesisir lain di Kaltara, yang memiliki potensi ekosistem mangrove dan karbon tinggi.
“Ke depan akan dikembangkan di desa-desa pesisir lainnya, tentu dengan melihat potensi masing-masing daerah,” tutupnya.
[Redaktur: Patria Simorangkir]