Lebih lanjut, Zainal mengungkapkan bahwa pengembangan karbon biru tersebut diarahkan untuk mendukung perdagangan karbon di masa depan. Namun, manfaat ekonominya diperkirakan baru dapat dirasakan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
“Diproyeksikan sekitar tahun 2035 program ini mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga:
Membangun Remaja Gigih di Era Mudah : Belajar dari Oslo, Norwegia
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat desa akan menjadi kunci utama dalam pengelolaan kawasan tersebut. Ke depan, program serupa juga akan diperluas ke wilayah pesisir lain di Kaltara, yang memiliki potensi ekosistem mangrove dan karbon tinggi.
“Ke depan akan dikembangkan di desa-desa pesisir lainnya, tentu dengan melihat potensi masing-masing daerah,” tutupnya.
[Redaktur: Patria Simorangkir]